Perdebatan abadi: Bluetooth audio vs. corong masjid kampung. Sungguh dilema, euy! Satu sisi, ada kecanggihan *android* yang bisa muter lagu *ambyar* tanpa kabel, suaranya jernih kayak air pegunungan, tapi kok ya kurang nendang *rasane*. Di sisi lain, corong masjid, meskipun kadang suaranya agak sember kayak *knalpot racing*, punya *punch* yang bikin telinga *njingglak*.
Pakdhe pernah bilang, “Bluetooth itu canggih, tapi corong masjid itu agung.” Kumaha atuh? Kalau Bluetooth bisa menjangkau pelosok desa tanpa *repeater*, corong masjid bisa bikin *ngopi* pagi jadi lebih *syahdu*. Keuntungan Bluetooth? Bisa *private listening*. Kerugian corong masjid? Kadang *overpower* sampai suara *excavator* pun kalah *gentle*.
Eta pilihan yang sulit, Pakdhe. Kedua-duanya punya *charme* tersendiri. Mungkin intinya, *gimana* kita menikmati suara, bukan *gimana* suaranya itu didapat.