Judul ini, *tutorial nggawe stylus pen seko biting sate*, sungguh sebuah mahakarya kebingungan. Bagaimana tidak, Pakdhe, ini bukan sekadar tutorial, ini adalah perjalanan spiritual menuju nihilisme teknologi. Bayangkan, dari tusuk sate yang biasa *nyumpel* di gigi, kini bertransformasi menjadi alat sentuh canggih. Sungguh revolusioner, tapi bingung mau revolusi apaan.
Kumaha eta carana, euy? Apa biting sate-nya mesti diprogram ulang otaknya? Atau cukup di-update firmware-nya? Logika berimbang gaibnya begini: mungkin *android* kita terlalu canggih, jadi perlu stylus yang kembali ke akar, yang purba, yang *greget*! Atau mungkin ini cara menghemat, Pakdhe, dari pada beli stylus mahal mending *ngrayah* tusuk sate bekas. Tapi, *nggak* yakin juga bakal presisi, lha wong buat *nge-game* excavator di tablet aja kadang suka *mis-klik*. Jadi, apakah ini berguna? Mungkin iya, mungkin enggak. Tergantung *kontekstualisasi* fungsi stylus-nya. Kaya adegan film science-fiction, tapi versi kearifan lokal. Sekian dari saya, Pakdhe.